3 Mandat Allah Menjadi Etika Kristen

post-thumb

Sumber: www.freepik.com/free-vector/people-holding-diverse-religious-symbols-illustration

Kehidupan Yesus kiranya menjadi teladan orang percaya, ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. (1 Pet 2: 23).

Yesus memperagakan kasih kepada sesama, meskipun diperlakukan tidak baik oleh orang-orang yang menolak, namun Ia tidak membalas dan tidak mau menghakimi, tetapi menyerahkan kepada Bapa. Itulah nilai-nilai yang harus dilakukan oleh para pengikut Kristus.

Untuk dapat mempraktikkan kehidupan yang beretika Kristen bukan dalam waktu yang singkat, namun melalui proses yang panjang.

Ketika menerima Yesus bukan berarti langsung dewasa, tetapi melalui pembaharuan budi, sehingga dapat membedakan kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan sempurna (Roma 12: 2).

Beberapa Prinsip Doktrin Alkitab Menjadi Etika Kristen

Satu, Mandat Kultural atau budaya merupakan mandat yang diberikan Allah kepada kita sebagai manusia untuk menaklukkan dan berkuasa atas bumi dan isinya (Kej 1: 28).

Karena manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, maksudnya adalah manusia merupakan gambaran kemuliaan Allah. (Kej 1:26). Maka sudah sewajarkan jika orang percaya bertindak mulia dan berbeda dengan orang dunia.

Kedua, Mandat Spritual ada dua yaitu mandat yang diberikan Allah untuk penginjilan dan membaptis. Yaitu membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus serta mengajar (Matius 28: 19).

Gereja tidak berhenti hanya pada membaptis namun diteruskan dengan mengajar supaya umat dapat meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Selain itu perintah untuk menggembalakan domba-domba (Yoh 21:15) supaya tidak tercerai berai.

Tiga, Menjadi Garam dan Terang, bukan berbicara kekristenan yang dipengaruhi oleh etika dunia, tetapi kekristenan harus berdampak baik pada masyarakat. Mungkin belum bisa mengubah etika dunia, namun paling tidak dapat menunjukkan keteladanan yang baik.

Kualitas kepemimpinan seperti yang diperagakan oleh Yesus, Paulus, dan Musa yaitu kepemimpinan dengan firman Tuhan, menjadi garam dan terang serta seperti gembala yang menuntun domba-domba. Di dalam kekristenan yang terpenting bukan kekuasaan, namun kualitasnya sampai akhir.

Allah Akan Mendidik dan Menghajar Orang Percaya

Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia. (1 Kor 11: 32).  Kata mendidik berasal dari kata “paideuo” yang berarti menuntun. Kepada yang dikasihi-Nya, akan menerima hajaran. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (Wahyu 3:19 dan Ibrani 12:5-7).

Daripada menerima penghukuman kekal, orang percaya kiranya mau dididik dan dihajar oleh Tuhan agar dapat masuk keselamatan kekal. Tanpa dituntun oleh Roh Kudus, kita tidak akan mampu menghadapi hajaran dari Tuhan Yesus. Bahkan Allah menunjukkan kasihnya, ketika kita masih berdosa. (Roma 5: 8). Apalagi ketika dosa tidak berkuasa atas oang percaya, maka Allah akan semakin mengasihi kita.

Doktrin Tentang Manusia

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa (Kej 1:26). Gambar dari kata “tselem” yang berarti gambar, bayangan atau rupa. Sedangkan rupa berasal dari kata “d@muwth” yang berarti menyerupai, dan seperti.

Barangsiapa telah melihat Aku (Yesus), ia telah melihat Bapa (Yoh 1:19). Gambaran ini yang digunakan Bapa untuk menciptakan manusia, maknanya adalah manusia merupakan gambaran kemuliaan Allah, ciptaan Allah dan karya Allah, untuk menunjukkan siapa pencipta-Nya

Wasana Kata

Mandat dari Allah kepada orang percaya untuk menaklukkan dan berkuasa atas bumi kiranya tidak disalahgunakan, namun apa pun yang kita lakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Demikian juga mandat spiritual untuk menjadikan bangsa murid Yesus, tidak hanya menjadi tanggung jawab para pendeta atau penginjil tetapi semua orang percaya untuk dapat bersaksi melalui perbuatan-perbuatan baik.

Serta mandat menjadi garam dan terang yang selalu membawa nilai-nilai positif di tengah-tengah masyarakat. (KB)