Mengapa Tuhan Mengizinkan Penderitaan?
Image Source Freepik.com
Mengapa Tuhan Mengizinkan Penderitaan?
Pertanyaan yang Paling Manusiawi
Kalimat ini mungkin pernah muncul di benak kita semua:
“Kalau Tuhan baik, kenapa Dia biarkan aku menderita?”
Pertanyaan ini nggak tabu.
Bahkan para tokoh Alkitab pun pernah menanyakannya — Ayub, Daud, bahkan Yesus sendiri ketika berseru di kayu salib:
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)
Artinya, Tuhan nggak tersinggung dengan pertanyaan kita.
Dia tahu bahwa penderitaan bikin kita lemah, tapi di tengah kelemahan itu juga, Dia ingin kita menemukan kedalaman kasih dan pengharapan yang sejati.
Penderitaan Adalah Akibat Dunia yang Rusak
Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3), dunia ini kehilangan kesempurnaan semula.
Sakit, air mata, bencana, dan kejahatan bukan berasal dari Allah, tapi dari dunia yang sudah retak oleh dosa.
Tuhan tidak menciptakan penderitaan — tapi Ia mengizinkannya supaya dari situ manusia belajar kembali bersandar kepada-Nya.
“Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”
(Roma 8:28)
Ayat ini bukan berarti semua hal baik, tapi berarti Tuhan bisa memutarbalikkan yang pahit menjadi berkat.
Tuhan Tidak Selalu Menghapus Penderitaan, Tapi Hadir di Dalamnya
Kita sering ingin Tuhan langsung menyingkirkan masalah.
Tapi Alkitab menunjukkan bahwa kasih Tuhan bukan selalu tentang “menghindarkan,” melainkan “menyertai.”
Waktu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dilempar ke dapur api, Tuhan nggak matikan apinya.
Tapi Dia turun ke dalam api bersama mereka. (Daniel 3:25)
Itulah kasih Tuhan:
Ia tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tapi Ia berjanji akan selalu hadir di tengah badai.
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”
(Mazmur 23:4)
Penderitaan Bisa Membentuk Karakter dan Iman
Kadang, penderitaan adalah “kelas pelatihan rohani.”
Kita mengenal Tuhan bukan cuma lewat berkat, tapi lewat air mata.
Paulus menulis,
“Penderitaan menimbulkan ketekunan; ketekunan menimbulkan tahan uji; dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”
(Roma 5:3–4)
Artinya, Tuhan pakai penderitaan untuk mengikis ego, menguatkan karakter, dan menumbuhkan iman.
Kita mungkin nggak paham saat ini, tapi nanti, saat menoleh ke belakang, kita akan sadar — Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang besar lewat masa sulit itu.
Salib: Bukti Bahwa Tuhan Tidak Jauh dari Penderitaan
Kalau kamu ingin tahu bagaimana Tuhan memandang penderitaan, lihatlah salib.
Yesus — Anak Allah yang sempurna — juga menderita.
Ia tahu rasanya dikhianati, ditinggalkan, disakiti. Tapi justru lewat penderitaan itu, keselamatan lahir.
Salib membuktikan dua hal penting:
-
Tuhan tidak kebal terhadap penderitaan manusia.
-
Dan penderitaan tidak punya kata akhir.
Karena setelah Jumat penuh luka, selalu ada Minggu kebangkitan.
“Sebab penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”
(Roma 8:18)
Refleksi
Tuhan memang tidak selalu menjelaskan “mengapa,” tapi Ia selalu menunjukkan “siapa” — yaitu diri-Nya yang setia, penuh kasih, dan hadir.
Jadi saat kamu tidak mengerti, jangan buru-buru pergi.
Tuhan masih di situ, bekerja lewat hal yang kamu tangisi hari ini.
“Kadang Tuhan tidak mengubah keadaan, karena Ia sedang memakai keadaan untuk mengubah kita.”
Ayat Peneguh:
“Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita.”
(Wahyu 21:4)