Baptis Selam Vs Baptis Percik, Mana yang Benar?

post-thumb
  • 4 Min To Read
  • 04-Jul-2026

Ilustrasi Baptis (Sumber www.magnific.com)

Aku bingung. Ada gereja yang membaptis dengan cara diselamkan, ada juga yang cuma dipercik air. Jadi sebenarnya yang benar yang mana?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul, terutama ketika seseorang berpindah gereja atau baru belajar tentang iman Kristen. Jawaban singkatnya adalah:

Baik baptis selam maupun baptis percik sama-sama dipraktikkan oleh gereja-gereja Kristen, tetapi keduanya lahir dari pemahaman teologi yang berbeda. Yang terpenting bukanlah banyaknya air yang digunakan, melainkan makna baptisan itu sendiri sebagai tanda iman dan anugerah Allah.

Mari kita bahas satu per satu.

Apa Itu Baptisan?

Baptisan adalah tindakan yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sebagai tanda bahwa seseorang menjadi pengikut Kristus. Sebelum naik ke surga, Yesus berkata:

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Matius 28:19)

Jadi, baptisan bukanlah tradisi gereja semata, tetapi perintah langsung dari Yesus.

Mengapa Orang Kristen Dibaptis?

Baptisan bukan untuk menghapus dosa secara otomatis. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan diterima karena kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus Kristus.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. (Efesus 2:8-9)

Lalu apa tujuan baptisan? Baptisan merupakan:

  • tanda ketaatan kepada Kristus,
  • pengakuan iman di hadapan orang lain,
  • lambang kehidupan baru,
  • simbol persatuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus,
  • tanda masuk ke dalam komunitas umat percaya.

Dari Mana Asal Baptisan?

Sebelum Yesus memulai pelayanan-Nya, muncul seorang tokoh bernama Yohanes Pembaptis. Ia membaptis orang-orang sebagai tanda pertobatan.

Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan. (Matius 3:11)

Bahkan Yesus sendiri menerima baptisan dari Yohanes.

(Matius 3:13-17)

Sesudah kebangkitan Yesus, baptisan memiliki makna yang lebih dalam, yaitu sebagai tanda seseorang telah menjadi murid Kristus dan mengambil bagian dalam hidup yang baru.

Mengapa Ada Baptis Selam?

Baptis selam dilakukan dengan membenamkan seluruh tubuh ke dalam air. Gereja-gereja seperti Baptis, Pentakosta, dan banyak gereja Injili mempraktikkan cara ini. Mengapa?

1. Kata "baptizo"

Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai "membaptis" adalah baptizo, yang secara harfiah berarti: mencelupkan, membenamkan, dan menenggelamkan.

Karena itu, banyak orang berpendapat bahwa bentuk baptisan yang paling sesuai dengan arti kata tersebut adalah baptis selam.

2. Melambangkan kematian dan kebangkitan Kristus

Paulus berkata:

Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian...(Roma 6:3-4)

Saat seseorang masuk ke dalam air, itu melambangkan "mati" terhadap manusia lama. Saat keluar dari air, itu melambangkan kehidupan baru bersama Kristus.

Karena simbol ini sangat jelas, banyak gereja memilih baptis selam.

3. Contoh Yesus

Sesudah dibaptis,

...Yesus segera keluar dari air. (Matius 3:16)

Ayat ini sering dipakai sebagai dasar bahwa baptisan Yesus kemungkinan dilakukan dengan cara diselamkan.

Mengapa Ada Baptis Percik?

Gereja-gereja Reformed, Presbiterian, Metodis, dan beberapa denominasi lainnya mempraktikkan baptis percik atau menuangkan air ke kepala.

Mengapa? Karena mereka melihat bahwa makna baptisan lebih penting daripada jumlah air yang digunakan. Beberapa alasan yang sering dikemukakan adalah:

1. Air melambangkan penyucian

Dalam Perjanjian Lama, penyucian sering dilakukan dengan memercikkan air. Misalnya:

Aku akan memercikkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu... (Yehezkiel 36:25)

Ayat ini dipahami sebagai gambaran penyucian oleh Allah.

2. Baptisan adalah tanda perjanjian

Sebagian gereja memahami baptisan sebagai tanda perjanjian Allah, mirip dengan sunat dalam Perjanjian Lama.

Karena itu, mereka juga membaptis bayi sebagai tanda bahwa anak tersebut termasuk dalam komunitas perjanjian dan kelak diharapkan mengakui imannya sendiri ketika dewasa.

Pandangan ini berbeda dengan gereja yang hanya membaptis orang yang telah menyatakan iman secara pribadi.

3. Tidak semua baptisan dalam Alkitab harus dipahami sebagai baptis selam

Misalnya ketika sekitar tiga ribu orang dibaptis pada hari Pentakosta.

(Kisah Para Rasul 2:41)

Sebagian penafsir berpendapat bahwa sulit memastikan seluruh baptisan itu dilakukan dengan cara diselamkan. Namun Alkitab sendiri tidak menjelaskan secara rinci metode yang digunakan, sehingga ayat ini tidak dapat dijadikan bukti pasti bagi salah satu praktik.

Jadi, Mana yang Lebih Benar?

Ini pertanyaan yang sering memicu perdebatan. Padahal yang lebih penting adalah memahami apa yang Alkitab ajarkan.

Baptisan bukanlah perlombaan tentang siapa yang memakai air lebih banyak. Yang terutama adalah:

  • Apakah dilakukan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus?
  • Apakah didasarkan pada iman kepada Kristus?
  • Apakah menjadi tanda ketaatan kepada Tuhan?

Perbedaan cara baptisan telah menjadi bagian dari sejarah gereja selama berabad-abad. Banyak gereja yang tetap mengakui sesama orang percaya sebagai saudara seiman meskipun berbeda dalam praktik baptisan.

Yang Tidak Boleh Dilupakan

Kadang kita terlalu sibuk memperdebatkan cara baptisan, tetapi lupa hidup sebagai murid Kristus. Seseorang bisa saja sudah dibaptis bertahun-tahun, tetapi masih hidup tanpa kasih, tanpa pengampunan, dan tanpa pertobatan.

Sebaliknya, tujuan baptisan adalah menjadi awal perjalanan hidup yang baru bersama Yesus.

Bayangkan ada dua pasangan menikah. Pasangan pertama mengenakan pakaian adat.

Pasangan kedua mengenakan jas dan gaun modern. Apakah keduanya benar-benar menikah? Tentu saja.

Yang membuat mereka sah bukan model pakaiannya, melainkan janji pernikahan yang mereka ucapkan.

Demikian juga baptisan. Cara pelaksanaannya memang berbeda menurut tradisi gereja, tetapi maknanya tetap sama: menyatakan iman kepada Kristus dan hidup sebagai murid-Nya.

Kesimpulan

Baptis selam lebih menonjolkan simbol kematian dan kebangkitan bersama Kristus serta didasarkan pada makna kata baptizo yang berarti membenamkan.

Baptis percik lebih menonjolkan makna penyucian oleh Allah dan tanda perjanjian, serta dipraktikkan dalam sejumlah tradisi gereja sejak berabad-abad lalu.

Apa pun tradisi gerejamu, jangan berhenti pada upacara baptisan saja. Baptisan bukanlah garis akhir, melainkan garis awal kehidupan bersama Kristus.

Yang Tuhan rindukan bukan sekadar orang yang sudah dibaptis, tetapi orang yang setiap hari bertumbuh dalam iman, mengasihi sesama, hidup kudus, dan menjadi terang di mana pun ia berada.

Catatan: Dalam sejarah Kekristenan, terdapat perbedaan pandangan mengenai bentuk baptisan. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman yang berimbang dan menghargai tradisi berbagai denominasi Kristen, sambil menekankan bahwa pusat iman Kristen adalah karya keselamatan di dalam Yesus Kristus dan panggilan untuk hidup sebagai murid-Nya. Soli Deo Gloria. (KB).