Orang sudah Meninggal, tetapi Belum Pernah Mendengar Injil?
Ilustrasi Mewartakan kabar Baik (sumber www.magnific.com)
"Kalau ada orang yang tinggal di pedalaman terpencil dan seumur hidupnya tidak pernah mendengar tentang Yesus, apakah mereka tetap masuk neraka? Bukankah itu tidak adil?"
Ini adalah pertanyaan yang sangat baik, dan banyak orang Kristen juga pernah memikirkannya.
Alkitab memang tidak memberikan jawaban yang rinci untuk setiap situasi, tetapi Alkitab memberikan beberapa prinsip penting yang dapat menjadi pegangan.
Yang pasti adalah:
- Allah mengasihi semua manusia.
- Allah selalu bertindak adil.
- Keselamatan diberikan melalui Yesus Kristus.
- Penghakiman terakhir adalah hak Allah, bukan manusia.
Mari kita lihat satu per satu.
Pertama, Allah Adalah Hakim yang Adil
Ketika Abraham berbicara kepada Allah, ia berkata:
Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil? (Kejadian 18:25)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah menghakimi secara sewenang-wenang. Kalau manusia bisa salah menilai, Allah tidak.
Ia mengetahui seluruh kehidupan seseorang—apa yang diketahui, apa yang tidak diketahuinya, dan bagaimana responsnya terhadap terang yang ia miliki.
Jadi, kita dapat percaya bahwa keputusan Allah selalu sempurna.
Kedua, Alkitab Mengajarkan bahwa Keselamatan Ada di Dalam Kristus
Yesus berkata:
Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)
Rasul Petrus juga berkata:
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia. (Kisah Para Rasul 4:12)
Ayat-ayat ini menjadi dasar keyakinan gereja bahwa keselamatan berasal dari karya Yesus Kristus.
Ketiga, Bagaimana dengan Orang yang Belum Pernah Mendengar Injil?
Di sinilah muncul berbagai pandangan di kalangan teolog.
Pandangan Pertama: Keselamatan Memerlukan Respons terhadap Injil
Pandangan ini dipegang oleh banyak gereja Injili. Mereka percaya bahwa Injil perlu diberitakan karena manusia membutuhkan kabar baik tentang Yesus untuk merespons-Nya dengan iman.
Karena itu, Amanat Agung menjadi sangat penting.
Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (Markus 16:15)
Kalau semua orang otomatis selamat tanpa mendengar Injil, tentu perintah untuk memberitakan Injil kehilangan urgensinya.
Pandangan Kedua: Allah Dapat Bekerja Melampaui Pengetahuan Kita
Sebagian teolog menekankan bahwa Allah berdaulat dan bebas bekerja dengan cara yang mungkin tidak kita pahami sepenuhnya.
Mereka menunjuk kepada sifat Allah yang penuh kasih, adil, dan mahatahu. Namun, mereka juga mengakui bahwa Alkitab tidak menjelaskan secara rinci bagaimana Allah akan menghakimi setiap kasus seperti itu.
Karena itu, mereka memilih untuk menyerahkan persoalan tersebut kepada hikmat dan keadilan Allah.
Paulus menulis:
Sebab apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka... sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. (Roma 1:19-20)
Paulus menjelaskan bahwa melalui ciptaan, manusia dapat mengetahui bahwa Allah ada. Langit, bumi, gunung, laut, dan seluruh alam semesta menjadi kesaksian tentang keberadaan Sang Pencipta.
Namun, Roma 1 tidak mengatakan bahwa pengetahuan umum melalui alam sudah cukup untuk menyelamatkan manusia. Justru bagian ini menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas responsnya terhadap terang yang telah diterimanya.
Mengapa Gereja Tetap Harus Bermisi?
Kalau pertanyaan ini muncul, biasanya ada pertanyaan lanjutan:
"Kalau Allah adil, buat apa menginjili?"
Jawabannya sederhana. Karena Yesus sendiri yang memerintahkannya.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku...(Matius 28:19-20)
Misi bukan sekadar kewajiban gereja. Misi adalah cara Allah menyatakan kasih-Nya kepada dunia.
Semakin banyak orang mendengar Injil, semakin banyak pula yang memiliki kesempatan untuk mengenal Kristus.
Bayangkan sebuah desa terpencil belum pernah mendapatkan akses listrik. Suatu hari pemerintah membangun jaringan listrik ke desa tersebut.
Apakah pembangunan itu berarti penduduk desa sebelumnya dibenci? Tentu tidak. Justru pembangunan itu menunjukkan kepedulian agar mereka menikmati terang yang sebelumnya belum mereka miliki.
Demikian pula Injil.
Penginjilan bukan tanda bahwa Allah tidak mengasihi mereka yang belum mendengar, melainkan bukti bahwa Allah ingin semakin banyak orang mengenal kasih-Nya di dalam Yesus Kristus.
Jadi, Apa yang Harus Kita Pegang? Ada dua kebenaran yang perlu dipegang bersama.
Pertama, Allah adalah Hakim yang sempurna. Tidak ada seorang pun yang akan diperlakukan secara tidak adil oleh-Nya.
Kedua, Alkitab dengan jelas memanggil gereja untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa. Karena itu, kita tidak boleh bersikap pasif dengan alasan "Allah pasti punya cara sendiri". Justru kasih kepada sesama mendorong kita membagikan kabar baik tentang Kristus.
Kesimpulan
Apakah kita tahu secara pasti bagaimana Allah akan menghakimi setiap orang yang belum pernah mendengar Injil? Tidak.
Alkitab tidak menjelaskan setiap kasus secara terperinci. Namun, kita mengetahui beberapa hal dengan pasti:
- Allah selalu adil.
- Allah mengasihi semua manusia.
- Keselamatan berasal dari karya Yesus Kristus.
- Gereja dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa.
Daripada berspekulasi tentang keputusan yang menjadi hak Allah, lebih baik kita menjalankan tugas yang telah diberikan-Nya, yaitu menjadi saksi Kristus melalui perkataan dan kehidupan kita.
Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil? (Kejadian 18:25)
Renungkan
Kalau hari ini aku sudah mendengar Injil dan mengenal Kristus, apakah aku sudah membagikan kabar baik itu kepada orang lain yang belum pernah mendengarnya? (KB).