Aku Sudah Kristen, tapi Takut Mati?

post-thumb

Image from magnific.com

“Aku percaya Tuhan. Aku percaya Yesus. Aku juga tahu ada kehidupan kekal. Tapi kenapa setiap kali memikirkan kematian, aku masih takut?”

Pernah punya pertanyaan seperti itu? Kalau pernah, tenang. Kamu tidak sendirian.

Banyak orang Kristen, termasuk anak muda, pernah mengalami ketakutan yang sama. Kita mungkin aktif pelayanan, rajin beribadah, hafal banyak ayat, bahkan bisa menjelaskan tentang surga kepada orang lain.

Namun, ketika membayangkan diri sendiri meninggal, hati bisa tiba-tiba berdebar.

Apalagi ketika mendengar berita orang seusia kita meninggal mendadak. Atau ketika melihat orang tua mulai sakit. Atau ketika malam-malam tiba-tiba terpikir, “Kalau aku mati besok bagaimana?”

Lalu kita merasa bersalah. “Bukankah aku orang Kristen? Kok masih takut mati?”

Takut mati bukan berarti imammu palsu

Pertama-tama, kita perlu memahami satu hal: takut mati tidak otomatis berarti iman kita lemah.

Kematian adalah sesuatu yang secara alami tidak kita inginkan. Dalam Alkitab pun, kematian digambarkan sebagai musuh. Paulus berkata, “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut” (1 Korintus 15:26).

Artinya, menjadi orang percaya bukan berarti kita berubah menjadi manusia tanpa rasa takut. Iman tidak selalu menghilangkan emosi. Kadang iman justru membuat kita mampu menghadapi emosi tersebut bersama Tuhan.

Jadi, kalau kamu takut mati, jangan buru-buru berkata, “Imanku jelek.”

Yesus sendiri pernah menghadapi kematian dengan sangat serius

Coba lihat Yesus di taman Getsemani. Menjelang penyaliban, Yesus berkata:

“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.” (Matius 26:38)

Yesus tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu salib adalah bagian dari misi-Nya. Tetapi mengetahui kehendak Bapa tidak membuat pengalaman itu menjadi mudah.

Yesus berdoa:

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.”

Ini menarik. Yesus tidak berpura-pura kuat. Ia tidak berkata, “Ah, mati mah gampang.” Ia membawa ketakutan dan pergumulan-Nya kepada Bapa.

Di sinilah kita belajar sesuatu yang penting: Iman bukan berarti tidak takut. Iman berarti membawa ketakutan kita kepada Tuhan.

Sebenarnya, apa yang kita takutkan dari kematian?

Kadang yang kita takutkan bukan sekadar “mati”. Kita takut kehilangan. Takut meninggalkan keluarga. Takut tidak sempat mencapai impian. Takut belum menikah.

Takut belum sukses. Takut belum melakukan sesuatu yang berarti. Takut sakit. Takut sendirian. Bahkan mungkin kita takut karena tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian.

Dan itu manusiawi. Tetapi Injil memberikan sebuah dasar pengharapan. Yesus berkata:

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”
(Yohanes 11:25)

Perhatikan, Yesus tidak mengatakan bahwa orang percaya tidak akan mati. Ia mengatakan bahwa kematian bukan akhir.

Inilah inti pengharapan Kristen. "Kekristenan tidak menjanjikan kita bebas dari kematian, tetapi memberi kemenangan atas kematian."

Paulus berkata:

“Hai maut di manakah kemenanganmu?” (1 Korintus 15:55)

Mengapa Paulus bisa berbicara seperti itu? Karena kebangkitan Kristus mengubah cara orang percaya memandang kematian. Tanpa Kristus, kematian adalah akhir.

Tetapi dalam Kristus, kematian menjadi pintu menuju kehidupan kekal. Ini bukan berarti kita harus mencari kematian atau bersikap ceroboh terhadap kehidupan. Justru sebaliknya.

Karena hidup adalah pemberian Tuhan, kita dipanggil untuk menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Belajar. Bekerja. Mengasihi. Melayani. Membangun keluarga. Mengejar cita-cita. Menjadi berkat.

Tetapi kita tidak lagi harus hidup dalam ketakutan terus-menerus terhadap hari terakhir.

Ingat kisah Ayub

Ayub mengalami kehilangan yang luar biasa. Ia kehilangan harta, anak-anak, kesehatan, bahkan mengalami pergumulan iman yang berat. Namun, di tengah semuanya itu ia berkata:

“Karena aku tahu: Penebusku hidup...” (Ayub 19:25)

Ayub tidak mempunyai semua jawaban. Ia tidak memahami mengapa penderitaan itu terjadi. Tetapi ia mempunyai sesuatu yang lebih penting: pengharapan kepada Allah.

Mungkin kita juga tidak tahu kapan kita akan mati. Tidak tahu bagaimana masa depan kita. Tidak tahu berapa lama kita akan hidup. Tetapi kita tahu siapa yang memegang kehidupan kita.

Jadi, bolehkah orang Kristen takut mati?

Boleh takut. Tetapi jangan hidup dikuasai ketakutan. Ketika pikiran tentang kematian datang, jangan selalu melawannya dengan panik. Berhenti sejenak. Tarik napas. Berdoalah:

“Tuhan, aku takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi aku percaya hidupku ada di tangan-Mu. Ajarlah aku menikmati hidup yang Engkau berikan hari ini.”

Mungkin kamu tidak perlu mendapatkan semua jawaban tentang kematian hari ini. Yang kamu perlukan adalah mengenal Dia yang telah mengalahkan kematian. Karena pada akhirnya, pengharapan Kristen bukan:

“Aku tidak akan mati.” Tetapi: “Sekalipun aku menghadapi kematian, aku tidak menghadapinya sendirian.”

Jadi, kalau malam ini kamu kembali memikirkan kematian, jangan hanya bertanya: “Kapan aku akan mati?” Cobalah bertanya: “Kalau hidupku adalah pemberian Tuhan, bagaimana aku akan menjalani hari ini?”

Sebab mungkin pertanyaan terbesar bukan kapan kita mati. Tetapi: apakah selama kita hidup, kita benar-benar sudah hidup bersama Kristus? (KB).