Orang Kristen Punya Ambisi Besar, Bolehkah?
Image from https://www.magnific.com
“Kalau saya ingin sukses, punya banyak uang, punya jabatan tinggi, membangun bisnis besar, bahkan menjadi orang terkenal, apakah itu bertentangan dengan iman Kristen?”
Pertanyaan seperti ini mungkin pernah muncul dalam pikiran banyak anak muda.
Di satu sisi, kita sering mendengar bahwa orang Kristen harus rendah hati, tidak mengejar dunia, dan tidak mencintai uang. Tetapi di sisi lain, Alkitab juga berbicara tentang bekerja keras, mengembangkan talenta, menjadi berkat, dan melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Jadi, bolehkah orang Kristen punya ambisi besar? Jawabannya: boleh. Tetapi ambisi itu harus diperiksa: untuk siapa dan untuk apa?
Ambisi bukan dosa
Ambisi pada dasarnya adalah keinginan kuat untuk mencapai sesuatu. Ambisi bisa menjadi sesuatu yang baik ketika mendorong seseorang untuk bertumbuh, bekerja keras, menggunakan kemampuan, dan memberikan kontribusi bagi orang lain.
Masalahnya bukan pada seberapa besar ambisi kita, tetapi pada ke mana ambisi itu diarahkan. Paulus berkata:
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” — Kolose 3:23
Ayat ini berbicara tentang cara kita bekerja. Menariknya, Paulus tidak berkata, “Kerjakan secukupnya saja.” Justru:
“Dengan segenap hatimu.”
Artinya, iman Kristen tidak mengajarkan kemalasan atau mediokritas. Orang percaya dipanggil untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Seorang anak muda Kristen boleh berkata: “Saya ingin menjadi dokter yang hebat.” “Saya ingin membangun perusahaan.” “Saya ingin menjadi pemimpin.” “Saya ingin mendapatkan pendidikan setinggi mungkin.” “Saya ingin memiliki kehidupan yang mapan.”
Yang perlu ditanyakan adalah:
“Untuk apa?”
Ambisi berubah menjadi masalah ketika “aku” menjadi pusatnya
Ada perbedaan antara:
“Saya ingin sukses supaya hidup saya berguna.”
dan:
“Saya ingin sukses supaya semua orang mengakui saya.”
Secara lahiriah keduanya mungkin terlihat sama. Sama-sama ingin punya jabatan. Sama-sama ingin kaya. Sama-sama ingin berhasil. Tetapi motivasinya berbeda.
Yesus pernah mengingatkan:
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” — Markus 8:36
Yesus tidak sedang mengatakan bahwa memiliki dunia adalah dosa. Ia sedang menunjukkan bahwa kesuksesan tidak boleh menjadi pengganti jiwa kita.
Kita bisa mendapatkan jabatan tetapi kehilangan integritas. Kita bisa mendapatkan uang tetapi kehilangan keluarga. Kita bisa mendapatkan popularitas tetapi kehilangan identitas. Kita bisa mendapatkan kesuksesan tetapi kehilangan Tuhan. Karena itu, pertanyaan orang Kristen bukan hanya:
“Seberapa tinggi saya bisa naik?”
Tetapi:
“Ketika saya naik, apakah saya masih berjalan bersama Tuhan?”
Yusuf punya mimpi besar
Lihat Yusuf. Sejak muda ia memiliki mimpi besar. Dalam Kejadian 37, Yusuf mendapatkan mimpi tentang masa depannya. Namun, perjalanan menuju penggenapan mimpi itu tidak mudah. Ia dibenci saudara-saudaranya.
Dijual sebagai budak. Menjadi pelayan di Mesir. Difitnah. Masuk penjara. Baru kemudian ia menjadi pemimpin besar di Mesir.
Yang menarik, ketika akhirnya Yusuf memiliki kekuasaan, ia tidak menggunakan jabatan itu untuk membalas dendam. Ia justru berkata kepada saudara-saudaranya:
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” — Kejadian 50:20
Yusuf memiliki posisi besar, tetapi posisi itu tidak menjadi pusat identitasnya. Inilah ambisi yang sehat:
besar dalam pencapaian, tetapi tetap tunduk kepada Allah.
Paulus juga punya “ambisi”
Ada ayat yang menarik dalam Roma 15:20:
“Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang...”
Paulus memiliki target pelayanan. Ia mempunyai visi. Ia ingin memberitakan Injil sampai ke wilayah-wilayah yang belum mendengar tentang Kristus.
Dengan kata lain, Paulus bukan orang yang berkata:
“Ya sudah, mengalir saja.”
Ia punya arah dan tujuan yang jelas. Namun, ambisinya bukan:
“Supaya nama Paulus semakin besar.”
Melainkan:
“Supaya nama Kristus semakin dikenal.”
Ini prinsip penting bagi anak muda Kristen: Ambisi boleh besar, tetapi ego jangan menjadi tuhan.
Bagaimana dengan uang?
Alkitab tidak mengatakan bahwa uang itu dosa. Yang diperingatkan Paulus adalah:
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” — 1 Timotius 6:10
Perhatikan: yang menjadi masalah adalah cinta uang, bukan uang itu sendiri.
Seorang Kristen boleh ingin kaya. Tetapi kekayaan tidak boleh menjadi tuhan. Ia boleh memiliki uang, tetapi jangan sampai uang memiliki dirinya.
Karena itu, kalau Tuhan memberikan kemampuan untuk membangun bisnis, jadilah pengusaha yang jujur. Kalau Tuhan memberikan kemampuan memimpin, jadilah pemimpin yang melayani.
Kalau Tuhan memberikan kemampuan akademik, gunakan ilmu untuk memberikan kontribusi. Kalau Tuhan memberikan kreativitas, gunakan kreativitas untuk menghasilkan sesuatu yang membangun.
Timothy Keller banyak membahas hubungan antara iman, pekerjaan, dan panggilan. Dalam perspektif The Gospel and Your Work, pekerjaan tidak hanya dipandang sebagai sarana mendapatkan uang atau status, tetapi sebagai bagian dari panggilan manusia untuk melayani Allah dan sesama.
Dengan perspektif ini, pekerjaan besar tidak otomatis menjadi ambisi duniawi. Yang menentukan adalah orientasi hati dan tujuan pekerjaan tersebut.
John Stott, dalam pemikirannya tentang pemuridan Kristen, menekankan bahwa orang Kristen dipanggil untuk hidup bagi Kristus secara utuh, bukan membagi kehidupan menjadi wilayah “rohani” dan “sekuler”.
Artinya, menjadi profesional, pengusaha, akademisi, seniman, pemimpin, atau pekerja bukan sesuatu yang otomatis berada di luar kehidupan iman.
Yang penting:
Kristus tetap menjadi pusatnya.
Tes sederhana untuk ambisimu
Sebelum mengejar sesuatu, coba tanyakan lima pertanyaan ini:
1. Apakah saya mengejar ini untuk kemuliaan Tuhan atau hanya untuk membuktikan diri?
2. Kalau saya gagal mendapatkannya, apakah saya masih merasa berharga di hadapan Tuhan?
3. Kalau saya berhasil mendapatkannya, apakah saya bersedia menggunakannya untuk menjadi berkat?
4. Apakah ambisi ini membuat saya semakin dekat dengan Tuhan atau justru menjauh dari-Nya?
5. Apakah cara saya mengejar kesuksesan tetap sesuai dengan karakter Kristus?
Kalau ambisi membuat kita rela menipu, menjatuhkan orang lain, mengorbankan keluarga, mengabaikan Tuhan, atau melakukan apa saja demi sukses, berarti ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Jadi, bolehkah orang Kristen punya ambisi besar?
Boleh. Bahkan orang Kristen seharusnya tidak takut memiliki visi besar.
Tetapi kita perlu mengubah pertanyaannya.
Bukan:
“Seberapa sukses saya bisa menjadi?”
Melainkan:
“Seberapa besar hidup saya dapat dipakai Tuhan?”
Jangan takut bermimpi. Belajar dengan sungguh-sungguh. Bangun bisnis. Kejar karier. Kembangkan talenta. Jadilah pemimpin. Miliki target.
Tetapi jangan lupa:
- Kesuksesan bukan identitasmu.
- Jabatan bukan nilai dirimu.
- Uang bukan tuhanmu.
- Popularitas bukan tujuan hidupmu.
Paulus memberikan prinsip yang sangat sederhana:
“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” — 1 Korintus 10:31
Jadi, anak muda Kristen tidak perlu takut berkata:
“Saya punya mimpi besar.”
Katakan saja. Tetapi tambahkan:
“Tuhan, kalau Engkau memberikan saya kesempatan untuk mencapai mimpi itu, biarlah kesuksesan saya bukan hanya membuat nama saya dikenal, tetapi membuat hidup saya berguna bagi-Mu dan bagi sesama.”
Karena pada akhirnya, hidup yang besar bukanlah hidup yang paling terkenal, paling kaya, atau paling tinggi jabatannya. Hidup yang besar adalah hidup yang dipakai Tuhan untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. (KB)