Ketika Kita Mulai Bosan Menjadi Orang Kristen
Image from https://www.magnific.com
Pernahkah kita merasa bosan menjadi orang Kristen?
Bukan berarti kita tidak percaya Tuhan lagi. Kita masih percaya Yesus, masih berdoa, masih datang ke gereja, bahkan mungkin masih aktif melayani. Tetapi entah mengapa semuanya terasa seperti rutinitas.
Dulu berdoa terasa menyenangkan. Sekarang seperti kewajiban. Dulu membaca Alkitab membuat hati tersentuh. Sekarang baru membaca beberapa ayat, tangan sudah ingin membuka media sosial.
Lalu muncul pertanyaan: "Apakah imanku sedang menurun?" Belum tentu. Bisa jadi kita bukan kehilangan iman, tetapi sedang mengalami kejenuhan rohani.
Ketika Iman Menjadi Rutinitas
Yesus pernah menegur jemaat di Efesus:
"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula." — Wahyu 2:4
Menariknya, jemaat Efesus bukan jemaat yang malas. Mereka bekerja keras, tekun, dan mampu membedakan ajaran yang benar dan yang salah. Secara aktivitas, mereka terlihat sangat rohani.
Tetapi ada sesuatu yang hilang: kasih mereka kepada Tuhan.
Secara eksegetis, istilah "kasih" dalam ayat ini berasal dari kata Yunani agapē, yang menunjuk pada kasih yang menjadi dasar relasi dengan Allah dan sesama. Persoalannya bukan sekadar kehilangan emosi, tetapi bergesernya pusat kehidupan mereka.
Mereka masih melakukan banyak hal untuk Tuhan, tetapi relasi dengan Tuhan tidak lagi menjadi pusat.
Ini bisa terjadi kepada kita.
Kita bisa rajin ke gereja tetapi hati jauh dari Tuhan. Kita bisa aktif melayani tetapi kehilangan sukacita. Kita bisa memiliki banyak pengetahuan Alkitab tetapi kehilangan kekaguman kepada Kristus.
Aktivitas rohani tidak selalu menunjukkan kedalaman relasi dengan Tuhan.
Iman Adalah Perjalanan
Paulus memberikan gambaran yang menarik dalam Filipi 3:12:
"Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya..."
Paulus sudah mengalami banyak hal bersama Tuhan. Namun, ia tidak merasa sudah selesai. Ia mengatakan bahwa dirinya masih "mengejar".
Dalam konteks Filipi 3, Paulus sedang berbicara tentang pengenalan akan Kristus. Kehidupan Kristen bukan sebuah pencapaian yang selesai ketika seseorang percaya kepada Yesus. Ada proses pertumbuhan yang terus berlangsung.
Ada masa kita bersemangat. Ada masa kita kering. Ada masa kita penuh sukacita. Ada masa kita penuh pertanyaan.
Karena itu, iman bukan sekadar perasaan; iman adalah perjalanan bersama Kristus.
Belajar dari Elia
Tokoh Alkitab yang menarik untuk kita pelajari adalah Elia.
Dalam 1 Raja-raja 18, Elia mengalami kemenangan besar di Gunung Karmel. Ia menyaksikan kuasa Tuhan dinyatakan secara luar biasa. Tetapi setelah itu, ia justru mengalami ketakutan dan kelelahan.
1 Raja-raja 19:4 mencatat:
"Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku..."
Bagaimana Tuhan merespons Elia? Tuhan tidak langsung memarahinya. Elia diberi makanan, kesempatan untuk tidur, kemudian Tuhan berbicara kepadanya.
Ada pelajaran penting: kadang-kadang masalah kita bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan, tetapi karena kita sedang lelah sebagai manusia.
Kelelahan pekerjaan, keluarga, pelayanan, masalah ekonomi, konflik, atau tekanan hidup dapat membuat kehidupan rohani terasa hambar.
Dietrich Bonhoeffer menekankan bahwa mengikut Kristus bukan sekadar menerima kenyamanan dari anugerah, tetapi juga menjalani kehidupan sebagai murid yang bersedia taat dan menyerahkan diri kepada Kristus.
Artinya, kita tidak bisa menjadikan perasaan sebagai satu-satunya ukuran iman.
Ada hari ketika kita sangat bersemangat berdoa. Ada hari ketika doa terasa kering. Ada hari ketika membaca Alkitab membuat kita menangis. Ada hari ketika kita membaca tanpa merasakan apa-apa.
Namun, Tuhan tidak berubah hanya karena perasaan kita berubah.
Kedewasaan rohani terlihat ketika kita tetap berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika semangat sedang hilang.
Apa yang Harus Dilakukan?
Ketika mulai bosan menjadi orang Kristen, jangan buru-buru meninggalkan Tuhan.
Pertama, jujurlah kepada Tuhan. Katakan apa adanya: "Tuhan, aku sedang lelah. Aku sedang bosan. Aku merasa jauh." Mazmur menunjukkan bahwa kita boleh datang kepada Tuhan dengan kejujuran, termasuk membawa keluhan dan pertanyaan.
Kedua, kembali kepada kasih, bukan sekadar aktivitas. Yesus berkata kepada jemaat Efesus:
"Ingatlah... bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan." — Wahyu 2:5
Ingat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita. Bertobat ketika hati mulai bergeser. Kemudian bangun kembali relasi dengan Tuhan.
Ketiga, jangan berjalan sendirian. Temukan komunitas dan sahabat rohani yang dapat menjadi tempat berbagi secara jujur.
Bosan Bukan Berarti Selesai
Ada masa ketika iman kita seperti api besar. Ada masa ketika hanya tersisa bara kecil. Tetapi bara kecil masih bisa menyala kembali.
Jangan malu ketika sedang berada di fase itu. Berdoalah lagi. Buka Alkitab lagi. Datang kepada Tuhan lagi. Bangun kembali komunitas. Dan yang terpenting, kembali kepada Kristus.
Menjadi orang Kristen bukan berarti setiap hari kita merasa bersemangat. Menjadi orang Kristen berarti terus belajar berjalan bersama Kristus, bahkan ketika hati sedang tidak merasakan apa-apa.
Mungkin kita sedang bosan dengan rutinitas menjadi orang Kristen. Tetapi jangan sampai kita bosan mencari Kristus.
Sebab kekristenan bukan terutama tentang seberapa menarik aktivitas agamanya, tetapi tentang mengenal, mengasihi, dan mengikuti Yesus Kristus. (KB)